KARTUN REMI

4 Feb

 

 

 

Selamat pagi gunungku, selamat pagi pohonku, selamat pagi teman-teman semua. Aku kan pergi jauh demi cita-citaku. Remi mohon doa restu darimu. Jangan bersedih teman-temanku, hidup ini adalah perjuangan. Marilah kita mulai melangkah, menuju cita-cita bahagia. Selamat berpisah semuanya, aku kan pergi untuk mengembara. Jangan sedih akan kepergianku, kelak pasti kita akan bertemu #themesongREMI

Itulah sepenggal video dan lirik dari lagu Film kartun REMI yang muncul kurang lebih dar tahun 1995. Kala jaman itu kartun REMI ditayangkan oleh stasiun RCTI pada pukul 08.00 pagi atau 08.30 setelah film doraemon yang hingga kini masih jadi favorit bagi semua kalangan umur. Tetapi bagi saya kartun REMI punya cerita yang sederhana dan sedikit terharu akan kemandirian yang dilakoni oleh REMI. Sedikit mengingat awal cerita film itu adalah ketika ayahnya yang bernama Jaroemi Barberin yang tinggal bersama istrinya di sebuah kota Prancis yang kecil, Chavanon. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang batu amat sangat jarang berada dirumah dan suatu hari ayahnya menemukan bayi laki-laki yang akhirnya dinamakan REMI. Setelah itu ayahnya mengalami kecelakaan dan dia menyalahkan majikannya dengan harapan agar diberikan kompensasi dalam sidangnya, tapi sayang sekali itu tidak didapatkannya. Ternyata malah berujung untuk menjual sapi-sapinya, dimana itu lah sumber kekayaan bagi keluarga REMI. Dan ketika itu pula REMI berumur 8tahun yang ingin disingikirkan oleh ayahnya sendiri untuk keluar dari rumah. Namun saat itu ketika ayahnya pulang ke rumah ternyata REMI masih berada disana. Barberin tidak patah arang untuk menyingkirkan REMI yang akhirnya dia dikenalkan oleh seorang seniman di pub lokal. Namanya Signor Vitalis dan akhirnya REMI diasuh olehnya dan melanjutkan perjalanan keliling paris bersama tiga anjing (Capi, Zerbino dan Dolce) dan satu monyet (Joli-Coeur). Vitalis ini lah yang mengajarkan REMI bermain kecapi dan belajar membaca. Semua perjalanan yang dilalui oleh REMI bersama Vitalis adalah dengan memberikan pertunjukan musik dan aksi dari teman hewannya yang lucu.

Ada yang menarik perhatian kala menonton REMI pada jaman itu karena kita mengharuskan memakai kacamata 3D dengan harga jual Rp 2.500 hingga Rp 5.000 :D

Bagaimana dengan jaman sekarang? 3D hanya bisa dikenal lewat bioskop dengan harga yang tidak murah. Wah iri deh yaa sama jaman ’90-an dulu. Hehehe. Pagi menjelang siang ini saya jadi kepikiran film REMI, yang dimana ternyata ada buku yang menceritakan tentang anak sebatang kara. Buku yang dijadikan novel itu berjudul “Nobody’s Boy”, yang dimana menceritakan kartun REMI hingga menikah. Tapi sayang sekali, buku nya sudah terbit Mei 2010. Semoga aja saya masih ketemu sama bukunya dan semoga film nya bisa diputar kembali ditelevisi. #horeeeeeeeeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: