BICARA LOMO DIMASA KINI

21 Jul

Di zaman era masa kini, lomo semakin diminati oleh para remaja. Lomografi sendiri itu biasa disebut dunia kamera plastik karena sebagian besar kamera lomografi terbuat dari bahan plastik. Media perekam kamera lomografi masih menggunakan film seluloid. Meski berbentuk sederhana, kamera-kamera lomografi mampu menghasilkan foto dengan karakter yang berbeda. ”Hasil kamera lomografi yang unik dan tidak sesempurna hasil foto dengan menggunakan kamera digital inilah yang membuat banyak orang jatuh cinta pada kamera lomografi,” kata Tommy Haryanto (32), salah seorang pendiri Lomonesia.

”Saat ini anggota Lomonesia sekitar 900 orang, tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Anwar Syarifuddin (29), Project Manager Lomonesia. Komunitas Lomonesia berdiri pada 5 Agustus 2004. Anggota Lomonesia terdiri atas kalangan beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga karyawan. Lomografi mampu merebut hati penggemar fotografi karena, selain hasil foto yang khas, harga kamera lomografi dan aksesorinya relatif murah. Harga berbagai tipe kamera lomografi Rp 400.000-Rp 1 juta. Jenis kamera yang relatif mahal adalah LOMO LC-A dengan harga sekitar Rp 3 juta dan Horizon Perfekt dengan harga sekitar Rp 5 juta.

Berawal dari seminar

Lahirnya Lomonesia dimulai ketika Tommy Haryanto dan Gloria Martie, dua orang yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan, mengikuti seminar yang diselenggarakan jaringan perusahaannya di Pattaya, Thailand, tahun 2001.

Saat itu Tommy dan Gloria melihat salah seorang rekan mereka membawa kamera LOMO LC-A. Melihat bentuk kamera yang unik, mereka tertarik dan bertanya di mana membeli kamera tersebut. Setelah berhasil mendapatkan jenis kamera yang sama dari Hongkong, mereka mulai tergila-gila dengan lomografi.

Pada tahun 2004, bermula dengan membuat milis Lomonesia (http://lomonesia@yahoogroups.com), Tommy dan beberapa rekannya berusaha mengumpulkan penggemar lomografi di Indonesia dan membuat sebuah komunitas. Pada awalnya, komunitas Lomonesia tidak berkembang pesat dikarenakan keterbatasan informasi mengenai dunia lomografi dan sulitnya mendapatkan kamera lomografi di Indonesia. Sejumlah penggemar lomografi terpaksa menitip membeli kamera tersebut kepada teman yang bepergian ke luar negeri. Beberapa tahun kemudian, melalui kegiatan pameran dan sosialisasi di berbagai tempat, semakin banyak orang yang tertarik pada dunia lomografi. Sejumlah toko dan distro yang mulai menjual kamera lomografi juga memudahkan orang memiliki kamera lomografi.

Tania Paramita (16), siswi SMA Labschool Kebayoran Baru, Jakarta, bergabung dengan Lomonesia setelah mendapatkan informasi situs Lomonesia dari internet. Melalui Lomonesia, Tania mendapatkan tips dan trik memotret serta lokasi yang bagus untuk berburu foto.

”Kita juga bisa mendapatkan informasi membeli film untuk kamera kita dan di mana memproses film setelah selesai memotret karena saat ini sulit mencari film seluloid di pasaran,” ujarnya.

Tessi Hananditya (22), mahasiswi Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta, justru mengenal Lomonesia ketika menonton sebuah acara televisi yang saat itu membahas mengenai kamera Holga. Melihat keunikan hasil kamera Holga, Tessi memutuskan membeli kamera tersebut dan selanjutnya bergabung dengan komunitas Lomonesia. Kegiatan berburu foto yang digelar komunitas Lomonesia pun jarang dia lewatkan. Selain menambah teman, melalui komunitas ini Tessi bisa mempraktikkan tips dan trik memotret yang didapat dari rekan lain.

Dunia lomografi adalah dunia suka-suka. Melalui Lomonesia orang berusaha menjalin pertemanan dan berkreasi sesuka hati. Mereka bebas untuk berekspresi dengan memotret obyek menggunakan kamera lomografi yang seolah tanpa aturan.

Meski tidak sepenuhnya meninggalkan dunia fotografi digital, para penggila lomografi mengaku menemukan sensasi baru dalam dunia fotografi. Memotret pada dasarnya adalah mengabadikan gambar menggunakan media perekam. Pilihan terbuka, apakah menggunakan kamera digital dengan teknologi canggihnya yang menghasilkan gambar yang sempurna atau membuat karya foto yang berbeda dengan kamera lomografi.

Komunitas Lomonesia merupakan bagian dari komunitas Lomografi Internasional. Penggemar lomografi di seluruh penjuru dunia bergabung di Lomographic Society International dengan situshttp://www.lomography.com.

Sejarah lomografi diawali dengan kamera yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Leningradskoye Optiko-Mechanichesckoye Obyedinenie (LOMO), sebuah perusahaan yang memproduksi lensa untuk alat-alat kesehatan, alat-alat persenjataan, dan lensa kamera di St Petersburg, Rusia.

Pada tahun 1982, LOMO menciptakan kamera kompak otomatis, yaitu kamera LOMO LC-A. Kehadiran LC-A pada waktu itu begitu fenomenal karena seolah mendobrak keberadaan kamera-kamera lensa refleks tunggal produksi Canon dan Nikon yang sudah eksis. Kamera LOMO LC-A menghasilkan foto unik dengan vinyet hitam di sisi pinggir gambar. Hasil foto LOMO LC-A berbeda dengan kamera lain yang saat itu terus berupaya menciptakan gambar yang sempurna.

Pada era tahun 1990-an, LOMO dan kamera lainnya, seperti Holga, Diana, Action Sampler, Pop 9, Oktomat, dan Horizon mulai banyak digemari karena keunikan bentuk kamera dan gambar yang dihasilkan. Dalam perkembangannya, lahirlah lomographic society. Istilah lomografi muncul karena produsen kamera LOMO dinilai menjadi pioneer-nya.

Hingga saat ini pun masih sering terjadi salah kaprah saat orang menyebut kamera mereka sebagai kamera lomo meski sejatinya LOMO hanya menciptakan tiga jenis kamera, yaitu LC-A, Lubitel, dan Smena.

Saat membentuk Lomonesia, Tommy dan beberapa rekannya harus mengurus izin ke perwakilan Lomographic Society International di Hongkong. Setelah mendapatkan izin dan menjadi duta lomografi untuk Indonesia, Lomonesia berkewajiban melaporkan segala kegiatan mereka ke Lomographic Society International.

Ketika menggelar pameran karya anggota Lomonesia, mereka mengirim surat elektronik ke Hongkong untuk mengabarkan kegiatan. Menurut Tommy, konfirmasi ke Lomographic Society harus dilakukan karena menyangkut citra Lomographic Society sebagai komunitas internasional.

”Saat membuat kaus untuk ulang tahun ke-4 Lomonesia, bulan Agustus kemarin, kami juga harus mengirim desain kaus ke Hongkong dan hanya boleh mencetak kaus dengan jumlah tertentu saja,” tambah Teguh Haryo (29), humas Lomonesia.

Meski tidak mengoordinasi seluruh kegiatan penggemar lomografi di Indonesia, Lomonesia mengharapkan setiap kegiatan kelompok dengan membawa bendera lomografi dapat dikonfirmasikan ke mereka sebagai perwakilan komunitas lomografi di Indonesia. (MYE)

Dan menurut saya, lomo adalah sebagian kamera yang terpinggirkan namun mempunyai sisi yang menarik. Entah dari bentuknya yang berbagai macam uniknya atau kualitas dari kamera lomo itu sendiri. Apalagi kamera lomo punya tantangannya juga, misalnya saja kita memakai kamera disderi ( biasa disebut robo ) yang bentuk kamera terlihat unik dengan tata cara penggunaannya. Kita kadang nggak pernah tahu apakah saat mengukur si objek dengan kamera ini bisa pas atau tidak. Nah, disinilah sisi yang menarik untuk dicoba. Jika anda berminat, MARI BELI SEGERA KAMERA LOMO ! hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: