Ketika “Setengah Sendok Teh” diputar.

12 Nov

Ayo kalian harus buka links ini –> http://komunitasfilm.org/?p=121

Film yang berdurasi 18menit ini hanya dilakoni oleh Titi Dibyo sebagai Lastri (istri), Suhartono sebagai Djalal (suami) dan Suparwoto Martinus sebagai Harno (orang ketiga). Mereka bermain dengan pendalaman emosi yang tinggi. Karena sebagai penulis Ifa Isfansyah mengatakan bahwa “Hidup adalah kebosanan yang indah”. Saya hanya bisa mengartikan bahwa terkadang hidup ini akan mengulang sesuatu yang biasa kita lakukan atau biasa disebut sebagai Dejavu. Kita akan merasakan bosan dengan keseharian yang kita lakukan sehari-hari,begitupun naskah dalam scene film ini juga mengulang beberapa kali dalam setiap adegannya. Rasakan ini hingga mencapai titik kebosanan lalu ada keindahan pada ujung bagiannya.

Seperti mas ifa bilang “Saya mendapatkan juga pengalaman psikologis yang berbeda dari melihat foto tersebut selama lima detik. Satu menit pertama saya merasakan sebuah keindahan, dua menit setelahnya saya merasa kesepian, satu menit kemudian saya merasakan kebosanan, menit terakhir saya merasakan kerinduan. Dari perasaan itu kemudian saya mendatangi lagi pameran yang sudah pernah saya datangi sebelumnya, mencoba menikmati dengan cara saya yang baru. Saya bisa bertahan hingga dua jam lebih dalam menikmati sebuah pameran dan mendapatkan pengalaman psikologis yang berbeda. Dari situlah saya menghabiskan perasaan bosan saya. Saya benar-benar ingin menjadi seseorang yang sudah tidak mempunyai stok bosan lagi sebelum saya memulai membuat Setengah Sendok Teh.” (sumber : http://isfansyah.blogspot.com/2008/02/setengah-sendok-teh-catatan-sutradara.html)

 

message facebook dengan mas ifa

Film Setengah Sendok Teh ini membuat saya kagum dalam pengambilan gambar dan naskah yang selalu diulang-ulang. Saya langsung jatuh cinta ketika pemaknaan naskah ini begitu dalam. Tidak banyak adegan yang bergerak, semua begitu lamban hingga kebosanan itu timbul. Begitupun ketika saya menontonnya, saya harus melihat naskah dan film itu dengan menghela nafas yang diartikan bahwa saya ikutan bosan seperti peran didalamnya. Sungguh ciamik.

Apalagi ketika peran Lastri yang ingin berselingkuh dengan Harno namun perselingkuhan itu tidak terjadi terlalu larut, karena apa? Karena Lastri mencintai Djalal. This is nice! Alasan yang simpel dan tidak perlu basa-basi seperti halnya naskah sinetron masa kini. Oh,sungguh mendramatisir. Prok.prok.prok (suara kaki bertepuk, hahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: